• KABAR
  • Restorasi Lahan Gambut yang Berkelanjutan Untuk Indonesia yang Lebih Baik

Restorasi Lahan Gambut yang Berkelanjutan Untuk Indonesia yang Lebih Baik

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar berbicara dalam Konferensi Ahli Internasional Gambut di Jakarta pada 13-14 November 2015

Kejadian kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia telah berulang kali setiap tahun. Kondisi terparah terjadi pada tahun 2015 yang berdampak besar pada aspek sosial, ekonomi, dan kerusakan lingkungan. Akibat kebakaran ini telah menimbulkan kabut asap yang sangat masif yang melintasi batas negara memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga.

Situasi ini membutuhkan transformasi mendasar tentang bagaimana lahan gambut dapat dikelola dengan baik dan benar. Pendekatan yang ditempuh melalui beberapa dimensi, baik secara lokal, nasional, maupun global. Dalam konteks ini, Pemerintah Indonesia berkomitmen melakukan reformasi kebijakan yang akan mengubah pengelolaan ekosistem gambut dan memulihkan kerusakan lahan gambut, termasuk daerahdaerah yang terkena kebakaran pada 2015.

Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Program REDD+ Partnership dan Kedutaan Besar Norwegia menyelenggarakan konvensi internasional para ahli gambut untuk menginisiasi langkah restorasi hutan gambut di Indonesia hingga lima tahun kedepan. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Shangri La, Jakarta, pada 13-14 November 2015. Peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini terdiri dari 25 perwakilan negara sahabat termasuk 5 Duta Besar, 30 orang perwakilan badan pembangunan, 36 orang ilmuwan, 31 orang kalangan lembaga swadaya masyarakat, 12 orang tokoh terkemuka, 68 orang perwakilan kementerian /lembaga, kalangan wartawan dari berbagai media serta tamu undangan lainnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, pada sambutan acara pembukaan menyampaikan tujuan konferensi international ini adalah untuk mendiskusikan mengenai ekosistem lahan gambut dan sangat terkait dengan kondisi ekologi yang sedang krisis yang tidak hanya berdampak pada Indonesia tapi juga berdampak pada ekologi global. Lebih lanjut, Siti Nurbaya menyatakan, “dalam pengelolaan lahan gambut, Indonesia membutuhkan panduan dan pengetahuan untuk mengelola dan memanej lahan gambut dengan metode pengelolaan ilmu pengetahuan dan justifikasi ilmiah yang metodenya telah banyak digunakan dan diterima secara internasional”.

Acara yang diresmikan dan dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, mengharapkan konferensi ini menghasilkan kerangka kerja teknis dan kerjasama dalam menangani dan mendanai program. Beliau juga menginginkan berbagai pemangku kepentingan perlu bertanggung jawab dan turut mendanai upaya yang diambil oleh Indonesia. Langkah hukum juga akan ditegakkan kepada mereka yang melakukan kekeliruan dan penyelewengan. “Pendekatan metodologi ilmiah harus menjadi dasar dalam langkah yang akan diambil. Tujuannya agar tidak ada dampak negatif yang berlanjut, mengurangi risiko yang ada, serta tetap menyejahterakan penduduk dan mengembalikan habitat seperti semula,” kata Jusuf Kalla.

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016