• KABAR
  • Pembelajaran Komunitas Dalam Penanggulangan Kabut Asap

Pembelajaran Komunitas Dalam Penanggulangan Kabut Asap

Pembelajaran Komunitas Dalam Penanggulangan Kabut Asap

Bencana kabut asap akibat kebakaran gambut dan hutan menyebar luas ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga. Tingkat pencemaran udara akibat asap telah melewati batas ambang bahaya. Dampak bencana asap pada 2015 telah mempengaruhi ke segala aspek kehidupan. Berbagai upaya telah dilakukan yang melibatkan sumber daya nasional dan internasional.

Untuk menyatukan langkah dan kekuatan semua pihak menghadapi kesiapan bencana kabut asap, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Kyoto University melaksanakan Workshp Pakar Penanganan dan Pembelajaran Kabut Asap di Indonesia Berbagai Aspek Penyelesaiannya, di Hotel Aryadhuta Jakarta, pada 5-6 November 2015. Workshop ini dihadiri oleh berbagai perwakilan masyarakat, perguruan tinggi dari Indonesia dan Jepang, kementerian dan lembaga terkait, Kementerian LHK dan Program REDD+ Partnership.

“Acara ini dimaksudkan untuk ajang belajar bersama dan memberi pengetahuan dan masukan bagi pemerintah”, ungkap Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir Hani Adriati. Beliau menambahkan juga untuk memberikan panduan kepada semua pihak di Indonesia dan juga masyarakat. “Kita tidak menginginkan ancaman el nino menjadi bencana seperti 3 bulan lalu yang terjadi di luar dugaan kita, ungkap Ir. Hani Adriati. Melalui kegiatan workshop ini, selain memperoleh berbagai pembelajaran dan rekomendari dari para pakar, juga mencermati pembelajaran dari komunitas. Perwakilan komunitas disampaikan oleh peserta dari Riau, Jambi dan Kalimantan Tengah. “Ada beberapa lokasi di kawasan gambut yang sudah tidak ada kanal dan rawan terjadi kebakaran, kami dorong dengan membuat sumur hidran per 100 hidran dan bisa mengcover 4-6 hektar ketika terjadi kebakaran” ungkap Hambali, perwakilan komunitas dari Jambi. Selain itu, beliau mengharapkan adanya transfer pembelajaran yang selama ini sering berhenti di tataran akademisi dan dapat digabungkan dengan pengalaman tradisional atau komunitas.

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016