• KABAR
  • Perjuangan Melawan Degradasi Hutan: Mengapa Menanam Pohon Tidak Cukup

Perjuangan melawan Degradasi Hutan: Mengapa Menanam Pohon Tidak Cukup

Kebanyakan gerakan melawan degradasi hutan di masa kini terfokus pada satu tujuan: untuk menghidupkan kembali kanopi hutan dengan cara menanam pohon. Gerakan-gerakan seperti Gerakan Penanaman 1 Milyar Pohon, Gerakan Menanam Pohon Nasiona, dan banyak gerakan lainnya yang dicanangkan oleh institusi pemerintahan dan institusi non-pemerintah telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar jutaan rupiah, dukungan sosial, serta kesadaran komunitas yang berujung pada peningkatan aktivitas penanaman pohon dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini tentunya layak dipuji, namun tidak dalam intensitas yang kita kira layak untuk mereka terima. Karena sesungguhnya, menanam pohon tidaklah cukup.

Pentingnya Pelestarian Pohon

Aksi pelengkap yang lebih dibutuhkan dan harus kita dukung dalam aksi menanam pohon adalah upaya untuk melestarikan pohon tersebut. Hal ini dikarenakan upaya pelestarian sangat vital untuk mencapai beberapa tujuan. Salah satunya, untuk tujuan mencegah akselerasi dari degradasi hutan. Dengan cara mendonasikan uang kepada komunitas adat dan komunitas lokal untuk upaya mereka melestarikan area hutan dan sekitarnya, kita telah memberikan mereka dana untuk bertahan hidup yang mereka butuhkan karena biasanya mereka menolak insentif ekonomi yang didapatkan lewat upaya mengumpulkan sumber daya dari hutan secara tidak berkelanjutan maupun tawaran perusahaan untuk membeli tanah hutan masyarakat untuk dijadikan lahan penanaman. Selain itu, dukungan dengan cara donasi tersebut akan memberikan dana bagi upaya pelestarian dan insiatif perlindungan yang mereka miliki. Upaya-upaya tersebut sangat penting untuk memastikan efektivitas dari metode-metode peremajaan hutan lainnya; dengan begitu, kita memastikan bahwa upaya kita untuk mempercepat pertumbuhan hutan tidak dibayangi oleh meningkat pulanya kecepatan menghilangnya area hutan.

Alasan kedua yang mendukung pentingnya upaya perlindungan pohon adalah karena aksi menanam pohon adalah aksi yang rapuh. Pada umumnya, pohon membutuhkan waktu selama 15-20 tahun untuk menjadi dewasa secara sempurna, dan di dalam rentang waktu tersebut, sebuah pohon sangat rentan terhadap ancaman eksternal seperti hama dan perubahan lingkungan yang memiliki kemungkinan untuk menghambat proses pendewasaan pohon tersebut. Studi dari FAO menemukan bahwa tingkat ketahanan hidup dari sebuah pohon yang telah tertanam berkisar di angka 50% dan bahkan lebih rendah. Sebagai perbandingan, sebenarnya jauh lebih mudah dan efektif untuk melestarikan pohon yang telah dewasa karena pohon tersebut sudah tidak terlalu rentan terhadap ancaman-ancaman yang telah disebutkan. Namun, yang paling penting diketahui terkait upaya pelestarian adalah bahwa upaya pelestarian merupakan komponen yang paling penting dalam memastikan bahwa upaya penanaman pohon mencapai kesuksesan; guna memastikan kesuksesan penanaman pohon, jumlah daya dan waktu yang dialokasikan untuk melestarikan pohon yang telah ditanam harus jauh lebih besar daripada aksi menanam pohon itu sendiri.

Bangkitnya Gerakan Penanaman Pohon

Walaupun bergerak dalam jumlah yang kecil dan belum memiliki dukungan sosial dan kesadaran masyarakat yang luas, komunitas dan gerakan-gerakan lingkungan telah memahami pentingnya upaya pelestarian pohon dan mulai menyuarakan hal tersebut. Komunitas tradisional di Rantau Kermas dan Nagari Simancuang, bersamaan dengan pemerintah lokal yang mengelola Taman Nasional Rinjani, adalah contoh dari komunitas yang telah melakukan hal tersebut, dengan cara menginisiasikan program “adopsi pohon”. Melalui situs-situs seperti www.pohonasuh.org, dan www.mybabytree.org, mereka mengundang orang-orang dari seantero Indonesia untuk mendonasikan uang yang nantinya akan digunakan untuk merawat pohon tertentu. Tiap orang dapat “mengadopsi” beberapa pohon sekaligus, sesuai dengan jumlah donasi mereka, dan mereka dapat menamai pohon mereka sendiri.

Apabila Anda ingin berpartisipasi aktif dalam kegiatan seperti itu, Anda dapat memilih satu dari sekian banyak komunitas, yang jumlahnya semakin meningkat, yang mengadakan acara donasi untuk pelestarian pohon. Acara #Kularikehutan yang diadakan oleh Hutan itu Indonesia dan REDD+ Partnership di fX Jakarta pada tanggal 5 Juni lalu adalah salah satunya. #Kularikehutan bertujuan mengumpulkan donasi dan dana untuk upaya pelestarian hutan dengan cara melaksanakan kegiatan lari. Jarak tempuh para pelari yang berpartisipasi dalam acara itu akan dikonversikan ke dalam donasi yang akan diberikan kepada komunitas-komunitas, seperti Rantau Kermas, sebagai pendukung upaya mereka untuk melestarikan pohon.

Antara Menanam dan Melestarikan

Hal yang harus diingat adalah upaya untuk mengadvokasikan suatu metode jangan sampai mengurangi urgensi dan kepentingan dari metode lainnya, bahwa upaya pelestarian pohon bukanlah bertujuan untuk menggantikan upaya penanaman pohon, upaya pelestarian adalah upaya pelengkap bagi upaya penanaman pohon. Dalam melindungi hutan dari ancaman degradasi, kita harus memastikan bahwa semua metode digunakan dan diberikan perhatian yang sama; sekarang adalah saatnya kita memastikan bahwa dukungan yang kita berikan untuk upaya pelestarian pohon setara dengan upaya penanaman pohon. Karena tanpa keberadaan metode lainnya, implementasi dari salah satu metode tersebut tidak akan sukses.

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016