• KABAR
  • Indonesia Rumah bagi 17 Persen Satwa di Dunia

Indonesia Rumah bagi 17 Persen Satwa di Dunia

JELASKAN MATERI: Koordinator Mitigasi dan Konflik WWF Indonesia perwakilan Riau Syamsuardi, menjelaskan materi terkait teori penanganan konflik gajah dan manusia oleh para mahout di Flying Squad PT RAPP di Sektor Ukui, beberapa waktu lalu.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Menjaga hewan-hewan langka seperti anoa, orangutan, gajah dan hewan-hewan lainnya memerlukan kerja sama semua pihak, termasuk perusahaan dan masyarakat. Demikian disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan saat membuka Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PLHK) 2016, Kamis (9/6) lalu. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, mengatakan pentingnya peran pemerintah dan semua stakeholder untuk menjaga melestarikan lingkungan, di mana saat ini Indonesia merupakan ‘’rumah’’ bagi 17 persen populasi satwa yang ada di dunia. Ia menerangkan hampir setiap pekan pihaknya mendapatkan laporan terjadinya kejahatan terhadap satwa dan tumbuhan di Indonesia. ‘’Setiap pekan kami mendapat laporan dari aktivis terkait kejahatan terhadap satwa dan tumbuhan ini. Terima kasih atas laporan dan catatan aktivis ini kami jadikan warning dalam menentukan langkah dan pengambilan kebijakan,’’ ujarnya. Terkait pernyataan dua petinggi negara tersebut, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang beroperasi di Pangkalankerinci ini telah berkomitmen untuk melakukan perlindungan terhadap satwa, yakni gajah sumatera (elephas maximus sumatrensis). Untuk meminimalisasi konflik antara hewan mamalia ini dengan warga, RAPP melakukan mitigasi konflik dengan membentuk tim Elephant Flying Squad (EFS) yang berada di estate Ukui, Kabupaten Pelalawan. Direktur RAPP Rudi Fajar mengatakan hal ini sejalan dengan ditunjuknya Provinsi Riau sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera, berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.54/Menhut-II/2006 tentang Penetapan Provinsi Riau sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera peraturan perubahannya P.73/Menhut-II/2006. ‘’Saat ini, PT RAPP telah memiliki 6 ekor gajah yang dilatih oleh sembilan orang mahout (pawang dan penjaga-red) yang terdapat pada pusat pelatihan gajah di Estate Ukui, Pelalawan. Keenam ekor gajah itu terdiri atas empat ekor gajah dewasa, yakni Adei (32), Ika (30), Mery (32) dan Mira (31) yang didatangkan dari Sebanga, Duri dan dua ekor gajah muda, yakni Raja Arman (7) dan Carmen (7), yang lahir di Flying Squad Estate Ukui,’’ terang Rudi. Dilanjutkan Rudi, tim Flying Squad RAPP bersama tim Flying Squad World Wildlife Fund (WWF) Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Yayasan TNTN rutin melakukan patroli gabungan guna memitigasi konflik gajah dan manusia di Riau. Patroli tersebut terus dievaluasi sehingga tim mengetahui keberadaan gajah-gajah. ‘’Patroli juga dilakukan sebanyak 3 sampai 4 kali setahun dengan sepeda motor atau dengan gajah binaan. Selain sebagai gajah patroli, gajah di Flying Squat Estate Ukui juga kadang digunakan sebagai gajah penyambut tamu jika ada tamu yang datang. Kami berharap dengan patroli ini, dapat mengajak masyarakat untuk melindungi satwa liar sehingga perburuan ilegal terhadap gajah dapat diberantas secara bersama-sama,’’ ucap Rudi.(dac)

sumber: http://www.riaupos.co/117085-berita-indonesia-rumah-bagi-17-persen-satwa-di-dunia.html#.V2DRVTVps00

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016