• KABAR
  • Dengan Koperasi Norwegia-Amerika Serikat yang Baru, Dukungan Bertambah Untuk Melindungi Hutan Melalui Penyeimbangan Penerbangan

Dengan Koperasi Norwegia-Amerika Serikat yang Baru, Dukungan Bertambah Untuk Melindungi Hutan Melalui Penyeimbangan Penerbangan

16 Juni 2016 | Norwegia dan Amerika Serikat pada minggu ini menyetujui untuk “melanjutkan dan meningkatkan koperasi yang sudah ada dalam REDD+ dan lanskap yang berkelanjutan” dengan menambahkan pendanaan untuk akuntansi karbon di negara-negara berkembang, mendukung investasi sektor swasta di hutan, mengurangi perdagangan kayu ilegal, dan mempromosikan transparansi di sektor hutan.

Persetujuan tersebut secara eksplisit mendorong agar majelis International Civil Aviation Organization (ICAO) 2016 mulai mengadopsi Global Market Based Measure (MBM) untuk memungkinkan pertumbuhan karbon yang netral di penerbangan internasional dari tahun 2020 – suatu gerakan yang didukung oleh lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan (termasuk Ecosystem Marketplace) dalam publikasinya berjudul “Linking Flight and Forests: The Essential Role of Forests in Supporting Global Aviation’s Response to Climate Change”.

“Usaha untuk penerbangan tersebut dapat mengkatalisasi insentif untuk mengurangi deforestasi melalui permintaan untuk pengurangan emisi hutan berskala besar, mengadakan aktivitas yang memenuhi kriteria program emisi dari ICAO dan merefleksikan pembangunan yang relevan dalam Kerangka Kerja dan Konvensi PBB dalam Perubahan Iklim (the United Nations Framework Convention on Climate Change)” tertera dalam persetujuan tersebut.

Sekretaris negara Amerika Serikat John Kerry dan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia Vidal Helgesan menandatangani persetujuan tersebut di Norwegian Government’s Oslo REDD Exchange pada hari Rabu. “Mengurangi deforestasi dan melakukan lebih banyak hal untuk mempertahankan hutan kita akan memungkinkan kita untuk mencapai sepertiga dari target mitigasi global di tahun 2030,” kata Kerry. “Pohon-pohon, seperti yang kalian semua tahu, adalah penangkap karbon dan memiliki mekanisme penyimpanan yang alami. Dan hal ini juga memberikan manfaat lebih dari perlindungan hutan yang terkait dengan keanekaragaman hayati, kualitas udara, kualitas air, tanah untuk masyarakat adat, dan lainnya.”

Apa itu MBM?

Jika penerbangan adalah suatu negara, maka hal tersebut akan berada di antara 10 besar negara yang mengeluarkan emisi karbondioksida terbesar, menurut International Energy Agency, tetapi penerbangan internasional tidak dibahas dalam Paris Agreement. ICAO telah berkomitmen untuk menjadi karbon netral dari tahun 2020 danseterusnya, dan banyak negara yang sekarang sedang mengembangkan komponen dari MBM tersebut, termasuk tipe-tipe aktivitas apa yang diperbolehkan.

Laporan “Linking Flights and Forests” merekomendasikan untuk mendorong keuangan karbon hutan seperti yang tertera dalam Paris Agreementuntuk memungkinkan maskapai-maskapai penerbangan untuk mengimbangi emisi gas rumah kaca mereka dengan melindungi hutan.

“Penyeimbangan atau offset REDD+ yang kuat dan hemat biaya dapat memainkan peran penting dalam mengisi kesenjangan emisi dan mendukung sektor penerbangan untuk memenuhi target iklimnya,” tertera dalam laporan tersebut. “ICAO MBM dapat bergantung pada REDD+ untuk memberikan volume dari offset atau penyeimbangan yang kuat yang dibutuhkan untuk memenuhi target reduksi emisi dan juga memberikan dampak tambahan lainnya di negara-negara berkembang – termasuk di antaranya adalah pembangunan berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati dan meningkatnya well-being manusia – dan melakukannya dengan integritas lingkungan.”

Tindakan Keras terhadap Perdagangan Kayu Ilegal?

Pernyataan bersama antara Norwegia dan Amerika Serikat yang dirilis minggu ini tidak membahas pembalakan dan perdagangan liar, berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama yang lebih transparan, mendukung kapasitas penegakan dan implementasi dari LaceyAct, suatu hukum Amerika Serikat yang melarang perdagangan margasatwa illegal, termasuk produk-produk kayu. Dan riset baru dari ForestTrends menunjukkan bahwa Amerika Serikat, di antara negara-negara lainnya, telah mulai meningkatkan usaha-usaha penegakan yang terkait dengan isu kayu ilegal ini.

“Amerika Serikat dan Norwegia mengerti bahwa menguatkan usaha-usaha untuk menghilangkan penebangan dan perdagangan liar merupakan hal mendasar untuk mengurangi deforestasi global,” kata Kerstin Canby, Direktur Kebijakan Hutan, Perdagangan dan Program Keuangan di ForestTrends. Dalam catatan terkait, kedua negara berusaha mengurangi deforestasi tropis dalam rantai pasokan yang ada dalam sektor swasta, yang memiliki hubungan dengan perdagangan ilegal dan pertanian yang komersial – yaitu dalam komoditas kedelai, kelapa sawit, sapi, dan kayu. Riset sebelumnya dari Forest Trends juga menemukan bahwa deforestasi tropis antara tahun 2000 hingga 2012 disebabkan oleh konvensi ilegal untuk pertanian komersial. Hampir seperempat dari jumlah tersebut disebabkan oleh konversi ilegal untuk pasar ekspor.

“Kami sangat senang melihat pemerintah menunjukkan keinginannya untuk membantu sektor bisnis menghilangkan deforestasi dari ratai pasokan mereka, sebagai empat besar komoditas pertanian seperti kelapa sawit, kayu, kedelai dan sapi bertanggung jawab akan terjadinya banyaknya penggundulan hutan tropis tiap tahunnya,” menurut Michael Jenkins, Presiden Pendiri dan CEO dari Forest Trends.

“Kami memuji Norwegia dan Amerika Serikat dalam menjaga hutan dan menjadikannya isu utama dalam agenda iklim global pada saat kritis ini, mengingatkan dunia bahwa tujuan dari Paris Agreement tidak dapat dicapai tanpa melestarikan dan mengelola hutan yang menangkap karbon di planet ini secara berkelanjutan,” menurutnya.

sumber: http://www.ecosystemmarketplace.com/articles/14322/

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016