• KABAR
  • Orang Rimba Ajak Jaga Hutan

Orang Rimba Ajak Jaga Hutan

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nur Masripatin (kanan) sedang diwawancarai secara live oleh penyiar Radio Benor, Betulus (tengah) dan Beteduh (kedua dari kiri) dalam stan pameran Festival Iklim 2016 di JCC, Jakarta, pada 1 Februari 2016. (Foto:Leo Wahyudi S)

Perubahan iklim tidak boleh dibiarkan, karena akan membahayakan banyak orang. Ungkapan ini muncul dari Beteduh, 17, seorang remaja Orang Rimba dari Kelompok Kedundong Mudo di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Bersama temannya, Betulus, Beteduh menjadi penyiar radio Benor FM yang menempati salah satu dari 62 stan peserta Festival Iklim 2016 di Jakarta Convention Center pada 2 Februari 2016. Mereka mengaku senang ikut Festival Iklim 2016 ini.

"Lewat radio ini saya ingin menyampaikan agar orang jangan menebang pohon atau membakar lahan sembarangan," kata Beteguh.

Beteduh yang sudah menjadi penyiar radio Benor FM selama 3 tahun itu mengatakan bahwa Orang Rimba tidak pernah menebangi pohon atau membakar ladang. Justru mereka menjaga hutan yang menjadi tempat hidup mereka.

Saat terjadi kebakaran lahan gambut dan hutan di Provinsi Jambi pada 2015, Beteduh mengisahkan betapa sulitnya hidup Organg Rimba di hutan saat itu. Bahkan ia mengaku empat kali turut ambil bagian dalam memadamkan api di hutan TNBD. "Di hutan jadi gelap karena penuh asap. Hidup jadi tidak enak dan panas," tambahnya.

Sepanjang ingatan Beteguh, Orang Rimba di kelompoknya harus hidup di tengah kepungan kabut asap selama 5 bulan.

Menurutnya, Orang. Rimba masih tetap berburu dan berkebun selama kabut asap itu. Tapi Binatang buruan tidak banyak. Banyak yang mati atau hilang. Misalnya kura-kura. Babi hutan juga sudah tidak ada lagi. Tak jarang mereka sering pulang berburu dengan tangan hampa.

"Kalau tidak ada binatang buruan ya kita tidak makan. Itu biasa bagi kami. Tapi biasanya para perempuan juga mencari umbi untuk makan," kata Beteduh.

Untungnya mereka masih dapat berburu biawak, trenggiling, landak, atau rusa. Madu hutan pun masih bisa mereka dapatkan.

Sementara itu Betulus, 14, mengaku sudah menjadi penyiar di radio Benor selama 2 tahun. Ia mengudara setelah jam 2 siang sampai jam 5 sore. Ia melakukannya setelah pulang sekolah karena sekarang Betulus ikut sekolah formal. Sekarang ia menjadi murid kelas 6 di sebuah Sekolah Dasar di luar TNBD.

"Kita harus menjaga hutan agar tetap baik, karena kita hidup di hutan," kata Betulus. Pesan itulah yang selalu ia sampaikan ketika ia mengudara.

Radio Benor yang memiliki jangkauan 12 kilometer ini didirikan untuk membangun kesetaraan Orang Rimba dengan kelompok masyarakat lainnya. Di bawah dampingan KKI WARSI, radio ini menjadi media untuk mentransfer informasi, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi. Radio Benor menyuarakan keberadaan sekitar 1.700 Orang Rimba yang tinggal di kawasan TNBD dan lebih dari 2.000 Orang Rimba lainnya yang tinggal tersebar di Jambi. (Leo Wahyudi S)

sumber: http://dibawahdua.com/index.php/highlight/80-orang-rimba-ajak-jaga-hutan

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016