• KABAR
  • Atasi Perubahan Iklim, Iman Perlu Aksi Nyata

Atasi Perubahan Iklim, Iman Perlu Aksi Nyata

Para pemuka agama sedang berbagi visi untuk mengantisipasi perubahan iklim dalam diskusi antar agama untuk membangun masyarakat yang tahan terhadap iklim dalam Festival Iklim 2016 pada 4 Februari 2016 di Jakarta. (Foto: Leo Wahyudi S)

Masalah kerusakan lingkungan hidup (environmental crisis), perubahan iklim, pemanasan global, dan manifestasi lain sejatinya adalah krisis moral, karena terjadi sebagai akibat perbuatan manusia.

“Maka semua itu harus dipahami sebagai sebuah krisis moral. Terjadi pengabaian nilai-nilai moral dan etika,” kata Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, dalam sebuah diskusi di Festival Iklim 2016 pada 4 Februari di Jakarta.

Din mengatakan lebih lanjut bahwa agama-agama telah terlambat merespon isu perubahan iklim. Dunia pun juga terlambat memandang agama-agama untuk isu yang sama.

Sebagai langkah ke depan, diperlukan upaya tindak lanjut penegakan moral. Agama memerlukan penegakan paradigma moral dan etika untuk mengatasi perubahan iklim yang sebenarnya sudah ada dalam agama.

“Karena itu perlu upaya internal untuk menyosialisasikan atau bahkan mengarusutamakan isu perubahan iklim ini,” kata Din.

Dalam penanganan masalah perubahan iklim, aktor-aktor negara tetap harus mengajak agama dari hulu ke hilir termasuk dalam proses perencanaan dan pembuatan kebijakan.

Menurut Din, peran pemuka agama sangat strategis. “Kita berjuang untuk dibawah2, tetapi harus dalam program-program aksi yang konkret,” tegas Din.

Menanggapi hal tersebut, P.C. Siswantoko, rohaniwan Katholik, menggarisbawahi pentingnya dialog antar agama untuk memperdalam komitmen dan konsistensi untuk mengajak masyarakat lebih ramah lingkungan.

“Dialog dengan pemerintah juga penting sehingga kita memiliki daya tawar yang tinggi terhadap pemerintah,” kata Siswantoko.

Diskusi dalam acara Festival Iklim 2016 antar para pemuka agama ini dihadiri para tokoh dari agama-agama di Indonesia. Mereka adalah Maksum Machfoez dari PBNU, Pendeta Penrad Siagian dari Persatuan Gereja-gereja Indonesia, P.C. Siswantoko, rohaniwan yang mewakili Konferensi Wali Gereja Indonesia, Soedjito Kusumo Kartika, Ketua DPP Perwakilan Umat Budha Indonesia, Uung Sendana L. Linggaraja, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, S.N. Suwisma, Ketua Parisada Hindu Dharma, dan Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah.

Siswantoko lebih lanjut mengatakan bahwa di Gereja Katholik ada pertobatan ekologis yang mengajak umat untuk memahami lingkungan hidup dan mengubah perilaku. “Cara mengubah perilaku dilakukan melalui pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat,” katanya.

Para pemuka agama tersebut sepakat bahwa kepedulian agama terhadap lingkungan hidup sudah ada dan sudah dilakukan. Ada konsep jalan tengah yang diusung umat Budha. Ada Program Gereja Sahabat Alam dari gereja Kristen.

Di tingkat nasional maupun global diperlukan sebuah kolaborasi lintas agama yang sudah disepakati perwakilan agama-agama di Indonesia dan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah untuk terlibat dalam gerakan yang disebut Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi).

Dalam tanggapannya, Maksum mengatakan, “Multifaith (keberagaman kepercayaan) tidak hanya tukang doa, tetapi penjabaran ajaran (faith) ke dalam aksi nyata di lapangan dengan semangat spiritual. Ia juga menekankan bahwa iman, toleransi, dan aksi harus 100 persen.* (Leo Wahyudi S)

sumber: http://dibawahdua.com/index.php/highlight/82-atasi-perubahan-iklim-iman-perlu-aksi-nyata

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016