• KABAR
  • Festival Iklim Himpunan Inisiatif dan Pemikiran

Festival Iklim Himpunan Inisiatif dan Pemikiran

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya bersama Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Nur Masripatin, Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono secara simbolis menerima ikrar anak muda terhadap perubahan iklim dalam penutupan Festival Iklim 2016 pada 4 Februari di Jakarta. (Foto: Leo Wahyudi S)

Kegiatan empat hari ini sebagai himpunan yang lebih penting yang mengangkat berbagai inisiatif, pemikiran, tentang iklim dari para pihak.

Ada banyak inovasi masyarakat. Kalau itu tidak dikumpulkan maka akan buyar. Ini harus dilakukan secara sistematis sebagai salah satu modal besar bangsa kita dalam meningkatkan ketahanan nasional terhadap dampak-dampak perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam pidato yang menandai penutupan Festival Iklim 2016 pada 4 Februari di Jakarta.

“Saya ajak menyosialisasikannya dengan integrasi atmosfer. Agenda ini sangat penting bagi kita untuk menyikapi dan kemudian melakukan sesuatu yang tepat untuk itu,” kata Siti sambil menggarisbawahi pentingnya sosialisasi dan internalisasi terus menerus yang lebih luas.

Festival Iklim 2016 yang diselenggarakan selama empat hari dari 1-4 Februari 2016 di Balai Sidang Senayan Jakarta telah menjadi magnet bagi banyak pengunjung. Dalam tiga hari sudah lebih dari 1.500 yang tercatat mengunjungi stan-stan pameran atau bahkan menjadi peserta dalam acara-acara selama pameran.

Festival Iklim 2016 diselenggarakan oleh KLHK bekerjasama dengan Pemerintah Kerajaan Norwegia dan UNDP Indonesia. Festival Iklim diadakan sebagai tindak lanjut dari Kesepakatan Paris (Paris Agreement) dari COP 21 di Paris, Perancis, pada penghujung 2015 lalu.

Dalam sambutan penutup, Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan bahwa Festival Iklim dimaksudkan untuk mengkomunikasikan Kesepakatan Paris dalam konteks nasional, amanat konstitusi, informasi tentang best practices. “Ini sebagai bagian dari upaya pelibatan semua pihak dalam pengendalian iklim yang bertemakan “Cegah kenaikan 2 derajat untuk kesejahteraan rakyat dan generasi mendatang’,” kata Nur.

Festival Iklim 2016 diikuti oleh 62 peserta dari Kementerian/Lembaga, organisasi nasional dan internasional, sektor swasta, masyarakat adat, green radio, green school. Acara-acara utama berupa seminar, diskusi, talkshow menghadirkan para menteri, Duta Besar Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Norwegia, para pakar, akademisi, pengamat, dan tokoh-tokoh agama. Ada 16 talkshow dengan 16 topik tentang perubahan iklim.

</>Media pun turut memainkan peranan penting karena ada 19 media cetak, 8 media elektronik, dan 19 media online dengan 125 peliputan sampai hari ketiga Festival Iklim 2016.

Selain para pakar, Festival ini juga dimeriahkan dengan berbagai lomba. Lomba debat Bahasa Inggris diikuti 12 Perguruan Tinggi se-Indonesia. Lomba pembuatan maket Kota Berkelanjutan diikuti 12 kelompok pelajar SMP dan SMA se-Jabodetabek. Lomba poster diikuti 31 peserta dari 17 SMP dan SMA. Selain itu ada Youth Program, pelatihan jurnalisme warga yang bertemakan upaya pengendalian perubahan iklim.

“Kita akan terus melakukan bersama sosialisasi dan internalisasi bersama. Kita akan sempurnakan sebaik-baiknya. Kalau ada yang salah, itu tandanya kita bekerja sehingga ada koreksi-koreksi ke depanya.,” kata Siti.

Ia bahkan berharap sampai Juni akan ada lebih banyak pemahaman tentang perubahan iklim sehingga semua pihak akan bekerja bersama untuk perubahan iklim.* (Leo Wahyudi S)

sumber: http://dibawahdua.com/index.php/highlight/83-festival-iklim-himpunan-inisiatif-dan-pemikiran

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016