• KABAR
  • Desa Bebas Api, Antisipasi Dini Kebakaran

Desa Bebas Api, Antisipasi Dini Kebakaran

BUKIT BATU- BENCANA asap di tahun 2015 memang harus menjadi pelajaran berarti bagi pemangku kebijakan strategis di Republik ini. Soalnya warga harus menanggung kondisi sulit karena harus menghirup udara tidak sehat karena asap yang mengandung polutan dan mengancam kesehatan masyarakat. Udara menjadi tak sehat bahkan berbahaya.

Di Riau khususnya Bengkalis, dampak kebakaran hutan dan lahan cukup berdampak sangat buruk bagi aktivitas warga dan perekenomian. Sekolah-sekolah sampai libur karena udara sudah tak sehat dan berbahaya.Berbagai aktivitas terganggu, seperti penerbangan tertunda.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada tahun lalu sebanyak enam provinsi yaitu, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat adalah provinsi yang mengalami bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan bencana disetiap wilayah cukup banyak menyita tenaga dan biaya besar.

Bercermin dari bencana asap di tahun 2015 Pemerintah Provinsi Riau langsung bertindak cepat. Mempersiapkan segenap kekuatan agar bencana tersebut tidak terulang dan berharap tidak ditemukan lagi kebakaran hutan.

Desa Bebas Api merupakan program berorientasi pada sosialisasi dini kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran.Setiap desa diberi penghargaan atau hadiah bila mampu menjaga daerahnya tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kalaupun terdapat titik api, masyarakat bisa menjaga dan melakukan pemadaman sebelun api membesar.

Lurah Sungai Pakning, Acil Esyno dalam sambutannya mengatakan, 1993 terjadi banjir, 2010 masuk PT SDA dengan luas 6.800 ha, mulai terjadi 2012-2015 lahan warga terbakar akibat kekeringan, pemadaman hingga malam hari, kebakaran 2015 mencapai 30-40 Hektar.

"Warga kampung Jawa di Kelurahan Kampung Jawa ini memiliki kearifan lokal yang tinggi, karena itu tak heran daerah ini juga bertekat untuk membebaskan desa ini dari kebakaran dengan mendukung program pemerintah untuk desa bebas api. Bahkan di Kampung Jawa ini sudah memiliki Masyarakat Peduli Api (MPA) yang begitu care dalam mencegah kebakaran lahan dan hutan yang ada di kelurahan Sungai Pakning ini," jelas Lurah Sai Paning, Acil Esyno sembari mengapresiasi warganya.

Ia juga mengucapkan apresiasi kepada masyarakat peduli api dan berharap dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. "Semoga kehadiran masyarakat peduli api mampu meendalikan kebakaran hutan yang dapat merugikan masyarakat," ujarnya.

Namun dalam mengantisipasi dan mengendalian kebakaran hutan tak akan berarti tanpa didukung oleh masyarakat secara keseluruhan," bagi masyarakat jangan melakukan pembakaran lahan sembarangan, karena dengan membakar dapat merusak lingkungan," ajak kata Acil.

Acil juga mengingatkan masyarakat dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari lebih berhati-hati. "Jangan membuang puntung rokok sembarangan dan bagi warga yang ingin memancing atau membakar lahan agar berhati hati dalam menggunakan api," Papar Acil yang berharap kepada masyarakat dalam membuka lahan dengan membakar dapat mengawal api agar tidak terjadi kebakaran luas.

Acil juga mengajak masyarakat melakukan penanam pohon merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.Diharapkan penanaman pohon kehidupan yang dicanangkan pihak Kementerian dan Pemda dapat diikuti masyarakat agar hasilnya kedepan dapat dimanfaatkan masyarakat.

MPA diharapkan dapat membantu pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun terjadi. Gerakan yang didukung Pemda dan Perusahaan merupakan momentum yang baik untuk meningkatkan komunikasi antara masayarakat, pemerintah, perusahaan dan stakeholders dalam mencibtakan harmonisasi. "MPA harus dapat memberikan manfaat jangan sampai terjadi lagi kebakaran yang dimulai dengan pencegahan," ujarnya. (lina)

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016