• KABAR
  • Komitmen Untuk Mengelola Gambut Berkelanjutan Di Jambi

Komitmen Untuk Mengelola Gambut Berkelanjutan Di Jambi

Jambi – Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 makin menyadarkan semua pihak pentingnya pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Untuk meningkatkan peran masyarakat dalam hal ini, REDD+ Partnership bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi mengadakan acara Temu Petani Gambut ‘Mewujudkan Kelola Lahan Gambut yang Berkelanjutan.’

Kegiatan yang diselenggarakan pada 14-15 Desember 2015 mengundang perwakilan petani dari tiga kabupaten di Jambi, yaitu Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi. Selain itu ikut serta pula utusan lembaga swadaya masyarakat Jambi, perusahaan pemegang konsensi, dan birokrat dari provinsi dan kabupaten.

“Dinas Kehutanan menjamin bahwa 20% kawasan hutan diperuntukkan untuk masyarakat dalam bentuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Irmansyah. Dia juga berjanji akan mengupayakan penguatan Indeks Tata Kelola Kehutanan di wilayahnya.

Janji Irmansyah melegakan. Maklum 736,2 hektar lahan gambut di Jambi mengalami ancaman. Ketika musim kemarau, ancaman kebakaran terus menghadang. Di Tanjung Jabung Timur yang mayoritas lahannya terdiri dari lahan gambut, intrusi air laut sudah masuk ke parit-parit desa. Sehingga masyarakat mengkonsumsi air asin untuk kebutuhan sehari-hari.

Warga mengidentifikasi sejumlah isu pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Mulai dari belum jelasnya tata batas lahan antar masyarakat dengan perusahaan, peningkatan taraf ekonomi penduduk, regulasi, lambatnya respon pemerintah dalam penanganan kebakaran hutan, minimnya fasilitas pemadaman kebakaran, kanalisasi dan peningkatan kapasitas pengelolaan koperasi.

Dari diskusi kelompok, warga membuat rencana tindak lanjut. Untuk mengatasi kebakaran, mereka akan membuat kanal blocking, embung, sumur bor, penyediaan alat pemadam serta membangun pos-pos pencegahan dan penanggulangan api.

Mereka mengusulkan adanya pendampingan untuk melakukan budidaya ikan, menanam komoditi tumpang sari dan hasil pertanian lainnya serta pemasaran hasil produk petani. Selain itu pendampingan untuk menyusun peraturan desa serta penguatan jaringan kerja antar masyarakat pengelolaan lahan gambut.

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016