Konflik Manusia dengan Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau

Di Tesso Nilo, kawanan gajah dijadikan sebagai anggota patroli dari kegiatan konservasi. Pola relasi positif ini yang semestinya terpelihara hingga kemudian hari. (Kredit Foto : Vitri Sekar Sari)

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar. Industri kelapa sawit Indonesia menyumbang hampir 50% dari total produk kelapa sawit di dunia. Industri tersebut, tentunya, memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini terutama baik bagi perusahaan - perusahan yang mendapatkan keuntungan dari industri tersebut. Bertentangan dengan fakta - fakta di atas, industri minyak kelapa sawit juga memiliki dampak negatif terhadap masyarakat dan spesies - spesies lain yang tinggal di dekat daerah perkebunan.

Dalam rangka mengkonversi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, hutan terlebih dahulu dibersihkan untuk memberikan ruang bagi perkebunan kelapa sawit. Setelah digunakan untuk perkebunan kelapa sawit, lahan tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk hal - hal lain. Hutan tersebut telah sepenuhnya hilang saat akan diubah menjadi kebun kelapa sawit. Hal ini tidak hanya mengurangi kuantitas hutan setiap tahunnya, tetapi juga berarti memberikan ancaman bagi kehidupan berbagai spesies yang tinggal di hutan. Diantara spesies - spesies tersebut adalah spesies langka dan terancam, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii).

Jumlah Gajah Sumatera terus menurun secara tajam. Dalam dua puluh tahun terakhir, Sumatera telah menjadi rumah bagi ribuan gajah. Sayangnya, dengan pertumbuhan industri kelapa sawit, bubur kertas dan kertas, rumah mereka terenggut secara paksa. Hal ini memang terjadi di banyak tempat di seluruh Sumatera, tetapi yang terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau jauh lebih rumit.

Pada tahun 2001, pemerintah memutuskan bahwa 165,000 hektar hutan Tesso Nilo harus digunakan sebagai area konservasi gajah. Sayangnya, setiap tahun terdapat setidaknya 23,251 hektar yang digunakan bagi industri kelapa sawit, kertas, dan bubur kertas untuk ekspansi bisnisnya. Sebagai konsekuensinya, jelajah Gajah Sumatera menjadi sangat terbatas dan berbahaya. Dikatakan terbatas karena sekarang mereka memiliki hutan yang sempit untuk tinggal dan mencari makan. Dikatakan berbahaya karena saat mereka menginjakkan kaki di kebun kelapa sawit, mereka akan dilihat sebagai ancaman. Dari total 300 - 320 gajah yang masih hidup di Riau, lebih dari setengahnya tinggal di Tesso Nilo. Selama dua tahun terakhir, dua belas gajah mati. Pada tahun 2013, ada tujuh gajah yang mati. Kebanyakan dari mereka ditemukan dibunuh dengan sengaja secara brutal.

Solusi bagi isu yang rumit ini mungkin beragam, namun itu berarti masih ada kesempatan. Setiap isu yang terlihat rumit, pasti ada solusi yang mudah. Salah satu cara yang paling efektif adalah berbagi visi bersama mengenai keberlanjutan yang menggerakkan usaha kolaboratif di antara komunitas dengan pihak swasta untuk menjamin kehidupan komunitas Gajah di Sumatera. Sebagai contoh, WWF menggunakan Flying Squad yang merupakan sebuah tim yang terdiri dari empat gajah tangkapan dan delapan pawang. Tim ini bertugas untuk memastikan bahwa gajah dan manusia hidup dalam harmoni di Tesso Nilo. Tentunya, usaha tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Tahun lalu, Tino, seekor bayi gajah berusia dua tahun, dan seorang anggota Flying Squad terbunuh. Saat ditemukan tubuhnya, ibu Tino sedang terikat pada sebuah pohon. Dipercayai bahwa Ibu Tino dipaksa untuk menyaksikan penyiksaan anaknya. Gajah adalah binatang yang akan terus mengingat apa yang mereka lihat hingga beberapa dekade kemudian. Mereka tidak pernah melupakan sebuah wajah.

Tentunya, cara lain untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memastikan luas wilayah tempat tinggal gajah tidak menurun setiap tahunnya. Pemerintah telah memberikan kontribusi dengan menciptakan Strategi dan Rencana Aksi Nasional Konservasi Gajah Sumatera. Pemerintah melakukan usaha konservasi di lapangan dan di luar lapangan bagi gajah. Mereka juga memperbaharui data dan statisik mengenai distribusi keberadaan Gajah Sumatera. Selain itu, tiga puluh LSM lokal juga ikut berkontribusi dengan menciptakan JIKALAHARI (sebuah jaringan LSM bagi usaha konservasi Hutan Riau). Peran mereka adalah untuk memastikan bahwa lanskap Hutan Riau dapat ‘melayani' ekologi, kepentingan ekonomi dan sosial dari masyarakat, gajah - gajah, dan sektor industri.

Kita dapat mengakhiri konflik di antara manusia dan gajah dengan memastikan bahwa habitat mereka aman. Salah satu langkah yang signifikan adalah moratorium bagi pemberian izin konsensi atau penerbitan izin pengalihan lahan hutan menjadi lahan perkebunan. Setelah implementasinya, moratorium ini akan menjadi dasar hukum untuk melindungi hutan dari operasi alih fungsi lahan yang kemudian akan memberikan ruang bagi hutan untuk memulihkan diri.

Pada saat ini, Pemerintah Indonesia berhenti menerbitkan izin - izin baru hingga 2016 yang akan diperbaharui setiap dua tahun. Setidaknya, usaha ini memperkuat status Tesso Nilo sebagai area konservasi. TNTN tidak boleh dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan gajah - gajah langka ini masih memiliki sebuah tempat yang dapat mereka sebut sebagai rumah terlepas dari seberapa sempitnya. Lebih penting lagi, hal ini berarti binatang - binatang langka lainnya yang tinggal di area lain menjadi sedikit lebih aman sekarang.


Penulis: Dinda Adhalia Royhan, interns pada Program UNDP REDD+ Indonesia. Penulis sekarang masih menjalankan studi pada Program Kesejahteraan Sosial di Universitas Indonesia. Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Penerjemah (Inggris-Indonesia): Ibrahim Panji Indra, interns pada Program UNDP REDD+ Indonesia. Penerjemah sekarang ini masih menjalankan studi pada Program Studi Kriminologi, Universitas Indonesia. Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016