• KABAR
  • Youth Corner
  • Tabat: Solusi Teknis Untuk Merangkul Masyarakat Lokal Melalui Sistem Sekat Kanal

Tabat: Solusi Teknis Untuk Merangkul Masyarakat Lokal Melalui Sistem Sekat Kanal

Satu tahun yang lalu, salah satu kebakaran hutan paling besar di dunia terjadi di Indonesia. Peristiwa tersebut diberitakan di banyak media masa dimana setiap perhatian masyarakat tertuju kepada peristiwa tersebut. Berdasarkan data dari World Bank (Bank Dunia), kerugian yang dialami karena peristiwa kebakaran tersebut dua kali lipat lebih besar dari kerugian Indonesia selama bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2014. Saat ini, situasi di lapangan sudah membaik, namun bukan berarti tidak ada lagi yang tidak dapat kita lakukan untuk memperbaiki situasi.

Kebakaran hutan merupakan peristiwa yang akan selalu terjadi di Indonesia. Hal tersebut merupakan siklus teratur dan tidak dapat diperdebatkan lagi. Kebakaran hutan menjadi masalah utama selama musim kering, saat kebakaran biasa terjadi pada lahan kering yang akan digunakan untuk bercocok tanam1. Namun, masyarakat harus sadar bahwa 90% dari kebakaran hutan terjadi karena ulah manusia. Hanya 10% dari kebakaran hutan yang terjadi karena alam dan tidak dapat dicegah.

Sisi positif dari fakta tersebut adalah, karena sebagian besar dari kebakaran hutan disebabkan oleh manusia, maka dari itu kita dapat berhenti melakukan aksi-aksi yang dapat menyebabkan kebakaran. Memang hal tersebut akan memakan waktu dan solusi yang kompleks. Tetapi hal terkecil yang dapat kita usahakan adalah menimalisasi dampak buruk dari kebakaran hutan terhadap lingkungan, komunitas lokal, dan masyarakat pada umumnya. Solusi yang ada dapat mencakup berbagai sisi, yaitu sisi teknis, sosial, dan aspek kebijakan. Salah satu contoh dari solusi teknis yang digunakan adalah sekat kanal. Dalam Bahasa lokal, sekat kanal disebut dengan “Tabat”.

Warga lokal mengawasi sekat kanal atau tabat. Tabat mengkombinasikan aspek sosial dan teknis dalam membentuk sekat kanal sebagai salah satu cara untuk membasahi kembali lahan gambut. (Photo credit: Kompas)

Sekat kanal akan menyediakan air yang akan membasahi area di kanan dan kiri hutan yang dikelilingi oleh kanal tersebut. Air dapat mencapai 7 km area dan kedalamannya mencapai 1-2 meter. Singkatnya, kanal digunakan untuk memastikan bahwa selalu ada air yang menghalangi titik panas penyebab kebakaran hutan apabila ada kebakaran hutan yang terjadi secara tiba-tiba. Keberadaan sekat kanal sangat penting saat musim kering karena titik api dan titik panas akan lebih cepat berpindah saat musim panas.

Usaha Bersama untuk Tabat

Pemerintah Indonesia berkerja sama dengan Non-Governmental Organization (NGO) serta masyarakat lokal untuk membangun sekat kanal. Pada bulan November 2014, Presiden Jokowi memberi perintah kepada Desa Sungai Tohor untuk membangun 11 kanal tersebut. Insentif tersebut tidak hanya diberikan kepada Desa Sungai Tohor, namun juga kepada banyak desa di Indonesia. Di beberapa desa yang tidak diberikan bantuan dana dari pemerintah, REDD+ memberikan bantuan dalam bentuk finansial dan bantuan pembinaan sosial untuk membangun sekat kanal. Pada tahun 2015, REDD+ berhasil membantu komunitas lokal di 4 desa di Kabupaten Bengkalis, Riau (Desa Tanjung Leban, Desa Sepahat, Desa Buruk Bakul, dan Desa Kampong Jawa) untuk membangun kanal. Terdapat 41 sekat kanal yang dibangun di tempat-tempat tersebut.2

 
"REDD+ berhasil membantu komunitas lokal di 4 desa di Kabupaten Bengkalis, Riau (Desa Tanjung Leban, Desa Sepahat, Desa Buruk Bakul, dan Desa Kampong Jawa) untuk membangun kanal."

Pada beberapa desa, sudah ada beberapa kanal yang dibangun dari waktu yang lama oleh perusahaan mapupun masyarakat lokal. Namun sayangnya, sekat kanal tersebut tidak digunakan secara efektif karena tidak ada sekat. Maka dari itu, keberadaan kanal saja tanpa dilengkapi dengan sekat tidak cukup untuk menanggulangi masalah kebakaran hutan, karena tanpa sekat, maka kanal tidak dapat menyanggah air, dimana proses tersebut sangat penting untuk meminimalisasikan kerusakan dari kebakaran hutan. Selain itu, sayangnya, tapa sekat, kanal biasa digunakan sebagai “jalan” bagi para penebang hutan untuk mengirimkan hasil tebangan ilegalnya. Maka dari itu, perlu untuk menutup jalan tersebut agar para penebang hutan illegal tidak memiliki akses untuk melakukan hal-hal tersebut.

Untuk memaksimalkan keuntungan memiliki sekat kanal, yang diperlukan adalah pengertian secara mutual antara para pemegang kepentingan, seperti perusahaan, pemerintah, NGO, dan juga yang paling penting adalah masyarakat lokal. Masyarakat lokal memiliki kepentingan terbesar jika dibandingkan dengan pemangku kepentingan yang lain karena mereka terkena dampak langsung yang siginifikan.

Meskipun sebenarnya terlihat mudah untuk meyakinkan masyarakat lokal untuk membangun sekat kanal yang ad ajika terdapat bantuan finansial, terkadang hal tersebut tidak semudah itu. Ada beberapa alasan. Pertama, beberapa masyarakat lokal masih ragu untuk membangunnya karena mereka tidak melihat kepentingan dari sekat kanal tersebut. Di Desa Kameloh, Kecamatan Sebanga, Palangkaraya, contohnya. Sudah ada 10 kanal yang dibangun, namun masyarakat lokal masih mempertanyakan fungsi dari kanal tersebut. Mereka merasa bahwa sekat kanal akan membebani mereka karena dengan adanya sekat kanal, maka masyarakat tidak dapat menggunakan kanal-kanal yang ada sebagai jalan kembali3.. Melihat fenomena tersebut, maka sangat penting untuk memberi pengertian mendalam terhadap masyarakat bahwa keuntungan yang diberikan oleh sekat kanal lebih besar daripada kerugiannya.

Yang kedua, beberapa dari masyarakat lokal menolak untuk membangun sekat kanal karena sekat kanal tersebut akan menggunakan tanah pribadi masyarakat, dan bukan milik perusahaan—aktor yang dianggap paling bertanggung jawab. Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Kuanta Singigi, Riau4. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah harus memastikan bahwa perusahaan melakukan kewajibannya dan tidak memindahkan kewajiban kepada masyarakat lokal.

Ketiga, beberapa masyarakat lokal tidak memiliki dorongan untuk melakukan monitor terhadap sekat kanal karena jarak yang jauh serta mereka tidap mendapatkan keuntungan apapun dari peristiwa tersebut. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, REDD+ telah melakukan solusi dengan memberikan dorongan bagi masyarakat lokal. Contohnya dengan mengisi kanal dengan ikan-ikan dalam kanal yang ada. Anak-anak kecil yang tinggal di daerah tersebut juga dapat berenang dan mandi di kanal yang ada. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara membuat kanal menjadi ramai dengan aktifitas warga sehingga kanal tetap hidup.

 
"Meskipun ada yang mengatakan bahwa sekat kanal tidak akan secara langsung menyelesaikan semua masalah kebakaran hutan yang ada, namun ia tentu berkontribusi besar untuk meminimalisasikan kerusakan yang ada."

Pentingnya sekat kanal sudah tidak perlu diragukan lagi. Meskipun ada yang mengatakan bahwa sekat kanal tidak akan secara langsung menyelesaikan semua masalah kebakaran hutan yang ada, namun ia tentu berkontribusi besar untuk meminimalisasikan kerusakan yang ada. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, pemahaman bersama serta kerja sama antara pemerintah, perusahaan, NGO, dan masyarakat lokal sangatlah penting. Namun karena kanal-kanal tersebut akan dibangun di tengah hutan dan hanya masyarakat lokal yang dapat memiliki akses ke lokasi kanal secara sehari-hari, maka penting bagi kita untuk memastikan bahwa kanal bekerja secara efektif bagi masyarakat lokal.

1Indonesia's Fire and Haze Crisis: http://www.worldbank.org/en/news/feature/2015/12/01/indonesias-fire-and-haze-crisis
2Kanal Gambut Pencegah Karhutla http://www.reddplus.go.id/berita/berita-redd/2516-kanal-gambut-pencegah-karhutla
3Tabat Menjaga Gambut Tetap Basah http://print.kompas.com/baca/2015/08/03/Tabat-Menjaga-Gambut-Tetap-Basah
4Ini Alasan Masyarakat Halangi Perusahaan Pasang Sekat Kanal http://riaubook.com/berita/9966/ini-alasan-masyarakat-halangi-perusahaan-pasang-sekat-kanal.html#sthash.X59MSZGp.a7NGIl3V.dpuf

Penulis: Dinda Adhalia Royhan, interns pada Program UNDP REDD+ Indonesia. Penulis sekarang masih menjalankan studi pada Program Kesejahteraan Sosial di Universitas Indonesia. Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. Penerjemah (Inggris-Indonesia): Kristi Ardiana, interns pada Program UNDP REDD+ Indonesia. Penerjemah sekarang ini masih menjalankan studi pada Program Studi Hukum, Universitas Indonesia. Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016