Kebakaran Lahan dan Hutan


Kejadian kebakaran hutan dan lahan gambut 2015 menempatkan Indonesia ke titik perhatian dunia. Berulangnya kejadian kebakaran kali ini bertanggung jawab atas kerugian ekonomi dengan perkiraan awal mencapai $ 16 milyar. Jumlah ini dua kali lebih besar dari kerugian dan kerusakan akibat tsunami tahun 2004 di Aceh, setara dengan 1.8% Produk Domestik Brutto (PDB) (World Bank, 2015).

Meluasnya kebakaran hutan di Indonesia menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan dan pengelola hutan. Berulangnya kejadian kebakaran dan kaitannya dengan fenomena cuaca ekstrim membuat setiap pemegang kekuasaan di Indonesia mau tidak mau harus menggunakan prinsip kehati-hatian yang luar biasa dalam tata kelola hutan dan lahan di Indonesia.

Namun fenomena cuaca seperti El Nino, yang menyebabkan hampir seluruh wilayah kepulauan Indonesia menjadi kering, bukanlah biang kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan (CIFOR, 2015).

Berdasarkan laporan sebuah lembaga riset, faktor manusia merupakan penyebab kebakaran hutan di sejumlah provinsi. Lebih dari 90 persen kebakaran hutan disebabkan karena manusia, atau sengaja dibakar.

Upaya mengurangi potensi kejadian kebakaran hutan dan lahan sebenarnya telah dirintis baik oleh inisiatif Pemerintah maupun pelibatan berbagai pihak misalnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di daerah oleh unit Manggala Agni dari KLHK, pemantauan deteksi titik panas melalui KMS (Karhutla Monitoring System) oleh BP REDD+ maupun inisiatif masyarakat melalui Desa Bebas Api.

Melihat besaran dampak dari peristiwa ini diperlukan pendekatan baru yang inovatif untuk mencegah berulangnya kejadian kebakaran ini. Program UNDP REDD+ Indonesia memilih pendekatan baru dengan fokus pada tindakan pencegahan dengan pelibatan komunitas masyarakat.

Berbagai elemen masyarakat yang memiliki niat baik untuk menjaga tanah dan hutan disekitarnya difasilitasi untuk dapat meningkatkan kapasitasnya dalam mendeteksi munculnya api di sekitar tempat tinggal mereka. Ini adalah bentuk mekanisme insentif positif dari upaya pencegahan kebakaran yang diberikan dalam bentuk penguatan kapasitas anggota masyarakat.

Program UNDP REDD+ Indonesia akan mendampingi para mitra pelaksana di 5 provinsi prioritas yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dalam mencegah berulangnya kebakaran hutan dan lahan gambut. Program ini juga merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam upaya global menahan kenaikan suhu global di bawah dua derajat dari suhu pra-industi sesuai Kesepakatan Paris.


Referensi terkait:

share this on: 

Fase Transisi REDD+ - United Nations Development Programme - 2016